
Tren pertanian modern dengan sistem hidroponik tengah banyak digemari. Namun, belum banyak orang yang mengetahui tentang sejarah hidroponik di Indonesia.
Sebagai negara agraris, perkembangan pertanian menjadi hal yang
umum terjadi di negara ini. Berawal dari pertanian konvensional yang sudah ada
sejak dahulu kala hingga saat ini pertanian hidroponik yang mulai diterapkan
para petani milenial.
Tanaman hidroponik adalah salah satu cara budidaya menanam
tanpa menggunakan media tanah dan hanya memanfaatkan air. Hal yang ditekankan
dalam teknik menanam ini adalah pemenuhan kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan
tanaman. Teknik menanam ini memerlukan air lebih sedikit jika dibandingkan
dengan cara menanam konvensional lainnya.
Metode penanaman ini diklaim sangat sesuai diterapkan di
daerah dengan wilayah yang memiliki sedikit air. Meskipun dalam kebutuhan
nutrisi tanaman menjadi sangat penting terhadap pertumbuhan tanaman yang
maksimal. Nutrisi pada tanaman yang dibudidaya secara hidroponik bisa berasal
dari berbagai macam sumber, termasuk contohnya kotoran bebek hingga pupuk
kimia.
Secara Etimologi
Secara bahasa, hidroponik diambil dari bahasa Yunani yakni
hydro yang berarti air dan ponos yang berarti daya. Hidroponik dikenal sebagai
soilless culture atau budidaya tanpa menggunakan tanah. Hingga hidroponik
merupakan sebuah budidaya tanaman yang menggunakan air dan tidak memakai tanah
sebagai media tanamnya.
Sejarah & Asal Hidroponik
Diawali dengan sebuah percobaan tanam tanpa tanah yang
tercatat dalam buku karya Francis Bacon di tahun 1627 hingga kemudian dijadikan
dasar sebagai bahan penelitian lebih lanjut. Di tahun 1699, John Woodward yang
merupakan seorang naturalis dan geologis asal Inggris mempublikasikan hasil
menanam tanaman mint menggunakan teknik
air.
Dari percobaan itu diketahui bahwa tanaman bisa tumbuh
dengan lebih baik dalam air yang kurang murni ketimbang menggunakan air
sulingan. Nyaris dua abad, tepatnya pada 1842 diketahui adanya 9 elemen yang
dipercaya memiliki faktor penting untuk menanam dengan menggunakan media air.
Di tahun 1859-1875 giliran ahli botani asal Jerman yang mengembangkan teknik
menanam tanpa tanah.
Hingga akhirnya metode ini menjadi sebuah riset standar
serta teknik mengajar yang dipakai sampai saat ini. Teknik menanam ini
dinamakan dengan solution culture atau juga budidaya solusi, hingga pada
1930-an seorang ahli botani kembali melakukan investigasi terkait adanya beberapa
wabah penyakit dalam sebuah tanaman dan dilakukan penelitian terhadap kondisi
media tanah.
Penelitian itu menghasilkan kesimpulan jika menanam dengan
air akan mengurangi risiko wabah penyakit. Pada 1929, William Frederick Gericke
yang merupakan seorang ahli dari Universitas California mulai mempromosikan
teknik menanam solution culture untuk produksi pertanian. Awalnya dipakai nama
aquaculture, namun disadari nama ini sudah dipakai untuk teknik lain.
Gericke kemudian mengejutkan banyak orang dengan hasil tanam
tomatnya yang mencapai 7,6 meter, yang ditanam tepat di belakang rumah hanya
dengan menggunakan air. Hingga pada 2937, psikolog bernama W.A Setchell
mengusulkan istilah apa itu hidroponik kepada Gericke, meskipun saat itu ia
merasa teknik ini belum tepat untuk dipublikasikan.
Perkembangan Hidroponik di Indonesia
Sebelum dipublikasikan, Gericke sempat mengalami
perselisihan dengan Universitas California setelah teknik tanamnya dinilai
tidak membawa keuntungan bagi tanaman. Usai menjalani penelitian di sebuah
rumah kaca milik universitasnya, Gericke resmi melepas jabatan yang diemban di
perguruan tinggi tersebut karena perbedaan pendapat.
Hoagland sebagai salah satu utusan Universitas California
menemukan sebuah cara pemberian nutrisi yang baik untuk tanaman budidaya
hidroponik. Teknik awal Gericke yang dikembangkan dikombinasikan dengan teknik
Hoagland yang menghasilkan tanaman berkualitas. Teknik hidroponik pun masuk ke
Indonesia sejak tahun 1980, oleh Bob Sadino.
Sebagai seorang narasumber dan pakar dalam agribisnis, Bob
Sadino memperkenalkan teknik hidroponik di Indonesia. Berawal dari hobi menanam
dan merupakan salah satu aktivitas yang kerap dilakukan masyarakat Indonesia
mengisi waktu senggang. Kini hidroponik sudah menjadi cara budidaya tanaman
yang komersial.
Semakin berkembangnya teknik penanaman ini, ditambah dengan
sempitnya ruang di daerah perkotaan membuat hidroponik semakin dipilih sebagai
cara menanam. Hal ini karena proses penanaman hidroponik bisa dilakukan di
berbagai tempat, seperti samping rumah, tembok dan pagar hingga di atas kolam
renang.
Kelebihan Teknik Hidroponik
Salah satu kelebihan teknik penanaman ini yang paling
memudahkan adalah berkurangnya penggunaan air dalam proses penanaman.
Penghematan air ini akan sangat baik untuk pemeliharaan kondisi dari
lingkungan. Tak hanya bisa diterapkan pada kawasan yang banyak air, lingkungan
kering juga sudah memiliki solusi, berikut kelebihan metode hidroponik.
Tidak membutuhkan media tanah.
Memberi hasil yang lebih banyak.
Lebih steril, bersih baik terhadap proses maupun hasil.
Media tanam bisa dipakai hingga berulang kali.
Tanaman yang bisa tumbuh relatif lebih cepat.
Bebas dari hama maupun tanaman pengganggu.
Nutrisi dari tumbuhan bisa dikendalikan secara lebih
efisien, sehingga lebih efektif.
Polusi nutrisi kimia pada lingkungan lebih rendah.
Air yang terus bersirkulasi dapat digunakan untuk keperluan
lain, seperti akuarium.
Kekurangan Hidroponik
Modal Besar
Sistem hidroponik pertama kali dibuat membutuhkan modal
cukup banyak, apalagi jika dijalankan dalam skala yang besar. Modal ini
dijadikan untuk membangun media tanam berupa instalasi, mulai dari pipa,
selang, pompa akuarium dan lainnya.
Sulit Mencari Perlengkapan
Hidroponik sudah mulai populer, bahan dan alat yang
dibutuhkan cenderung sulit didapatkan dan tidak semua toko dari pertanian
menjual alat serta bahan dari sistem hidroponik. Pada umumnya media tanaman
hidroponik termasuk alat dan bahan yang dijual oleh toko khusus hidroponik.
Butuh Perhatian Ekstra
Sangat diperlukan ketelitian dalam mempraktikan sistem
penanaman hidroponik, para petani pun harus melakukan kontrol terhadap nutrisi
dan tingkat PH-nya secara terus menerus atau berkala dari waktu ke waktu.
Perlu Keterampilan
Diperlukan ketelitian dalam proses penerapan sistem
hidroponik, keterampilan yang harus dimiliki petani dan orang biasa dalam hal
menanam. Selain itu proses pembibitan dan penyemaian hingga melakukan perawatan
sesuai dengan karakteristik dari sebuah tanaman itu.
Jenis Teknik Hidroponik
Static Solution Culture
Di Indonesia, teknik ini disebut dengan teknik apung dan
sistem sumbu dan merupakan cara menanam hidroponik menggunakan air statis atau
air yang tidak mengalir. Akar tanaman akan terus tercelup di dalam air hingga
diletakkan di suatu wadah dengan kandungan larutan nutrien. Untuk skala kecil
bisa menggunakan toples, gelas, ember dan bak air.
Aeroponik
Kelebihan dari metode ini dapat digunakan pada jenis
tanaman, asal dilakukan dengan tepat dan benar. Karena metode ini membuat
tanaman mendapatkan oksigen dan karbon dioksida di seluruh bagian tanaman.
Mulai dari akar, batang dan daun sehingga bisa mempercepat pertumbuhan dari
biomassa hingga mengurangi waktu perakaran.
Contoh Tanaman Hidroponik
Selada
Selada termasuk sayuran rendah kalori namun kaya vitamin A,
C dan K selain itu juga mengandung bentuk mineral. Termasuk zat besi, kalsium
dan magnesium yang penting bagi metabolisme tubuh. Selada menjadi salah satu
contoh tanaman yang bisa ditanam menggunakan teknik hidroponik, karena
perawatan yang mudah dan lahan yang diperlukan tidak terlalu luas.
Tomat
Buah ini mengandung banyak antioksidan tinggi selain vitamin
A, C dan asam folat di dalamnya. Menanam tomat secara hidroponik bisa dilakukan
di luar ruangan, karena tomat termasuk tanaman merambat dan memerlukan
penyangga agar pertumbuhannya bisa berjalan dengan sesuai.
Mentimun
Mentimun merupakan sayuran yang kaya akan vitamin B, C dan
asam folat di mana tentu menanam sayuran ini menjadi pilihan. Budidaya mentimun
menggunakan hidroponik bisa dilakukan dengan sederhana dan mudah, tak perlu
pengetahuan tinggi dari pertanian karena hanya memerlukan ketelitian dalam
perawatan.
Bawang Merah
Kelebihan hidroponik dalam menanam bawang merah adalah
kecepatan hasil panen yang hanya memerlukan waktu 3 sampai 4 minggu. Bawang
merah mengandung vitamin A, B, C dan K yang sangat baik untuk kesehatan tulang.
Bawang merah juga membantu mencegah kerusakan DNA dan kerusakan kulit dari
radikal bebas.
Kangkung
Kangkung termasuk tanaman merambat dalam proses
pertumbuhannya, baik di perairan maupun di tanah basah. Jika ditanam menggunakan
sistem hidroponik maka wadah yang bisa digunakan adalah baskom. Hasil menanam
kangkung dengan metode ini mampu menghasilkan sayuran yang lebih berkualitas
ketimbang kangkung yang tumbuh di lingkungan liar.
Source : www.sampoernaacademy.sch.id